Kurang Tidur, Nafsu Makan Menggila

Saat kurang tidur, mereka cenderung akan mengasup lebih banyak kalori.

Kurang tidur tak hanya memicu kantuk, lemas dan hilang konsentrasi, tapi juga memengaruhi selera makan. Studi New York Obesity Researh Center Columbia University menunjukkan bahwa kurang tidur memicu obesitas.

Mereka yang hanya menghabiskan waktu tidur selama empat jam per hari cenderung akan mengasup lebih banyak kalori setelah bangun, dibandingkan mereka yang tidur cukup.

Berdasar studi tersebut, efek terparah berlaku untuk wanita yang kurang tidur, dengan asupan rata-rata 329 kalori lebih banyak dibandingkan saat tidur cukup. Sedangkan pria memiliki kecenderungan peningkatan asupan sekitar 263 kalori.

Studi dilakukan demi menjelaskan hubungan antara kurang tidur dan kelebihan berat badan. “Studi ini menunjukkan kemungkinan penyebabnya,” ujar Marie Pierre St Onge, Ph.D, peneliti utama studi yang dipublikasikan dalam Konferensi American Heart Association di Atlanta, awal pekan ini.

Selama ini, orang dengan berat badan berlebih sering dikaitkan dengan sleep apnea atau gangguan pernapasan yang menyebabkan sering terbangun saat tidur. Namun, tidak jelas apakah kelebihan berat badan menyebabkan masalah tidur, atau justru pola tidur yang menyebabkan kelebihan berat badan. Kebingunan inilah yang kemudian dijawab Onge.

Dalam studinya, Onge melibatkan 13 laki-laki dan 13 perempuan sukarelawan usia antara 30 dan 45, yang semuanya memiliki berat badan normal dan pola tidur cukup. Seluruh peserta kemudian dikarantina di sebuah laboratorium tidur.

Selama enam hari, seluruh peserta diminta menjalankan dua tugas di bawah pengawasan ketat. Pada hari-hari awal, mereka bisa tidur hingga sembilan jam per malam. Namun, di waktu lain mereka hanya dibatasi tidur empat jam. Selama karantina, mereka tidak diizinkan tidur siang.

Untuk empat hari pertama, seluruh peserta hanya boleh menyantap sereal dan susu di pagi hari, serta hidangan beku untuk makan siang dan malam.

Dua hari terakhir, mereka bebas memilih menu makan. Namun, mereka hanya boleh jajan dengan uang saku yang ditentukan, serta mencatat kandungan gizinya secara jelas. Ini agar para peneliti bisa mengukurnya dengan benar.

Selain lebih banyak mengkonsumsi makanan berkalori tinggi, peserta juga condong memilih makan berlemak, dan makanan tinggi protein saat kurang tidur. “Es krim adalah paling favorit,” ujar Onge seperti dikutip dari laman Shine.
Baik pria maupun wanita lebih banyak mengonsumsi makanan kaya protein saat kurang tidur. Namun, wanita lebih banyak mengkonsumsi makanan mengandung lemak. Setelah tidur hanya selama 4 jam, para wanita mengkonsumsi lemak rata-rata 31 gram di atas pria.

Menurut Onge, peserta yang kekurangan tidur mungkin mencari sumber yang tepat untuk memperbaiki kondisi mereka. Namun, kurang tidur bisa juga merusak kemampuan orang untuk memilih makanan sehat untuknya.

“Makanan tinggi lemak lebih menggoda dan mungkin pada waktu tidur yang singkat, orang tidak lagi bisa mengkontrol dirinya sedangkan pada kondisi istirahat yang cukup, penolakan dalam diri akan lebih mudah,” ujar Onge.

Gida Lundberg, asiten profesor klinis dari kardiologi di Emory University School of Medicine, Atlanta, mengatakan, temuan ini berlaku untuk semua orang, termasuk mereka yang memiliki berat badan normal. 

0 komentar:

Posting Komentar